The Mantu Bubak Tradition in Javanese Marriage Rituals from the Perspective of Soren Kierkegaard’s Existentialism
Main Article Content
Abstract
This study aims to examine community perspectives on the mantu bubak tradition in Sumberjo Village, Margomulyo District, Bojonegoro Regency, and to analyze the forms of human existence embodied in this tradition through the lens of Søren Kierkegaard’s existentialist philosophy. The research employs a qualitative approach with a fieldwork-based design. Data were collected through participant observation, in-depth interviews with traditional leaders, religious figures, and families involved in the practice of the tradition, as well as documentation. The data were subsequently analyzed using descriptive, hermeneutic, and interpretative approaches. The findings indicate that the majority of the community continues to perceive mantu bubak as a socially and culturally functional tradition, as it strengthens family ties, social solidarity, and mutual cooperation amid processes of modernization. From a Kierkegaardian perspective, this tradition represents the aesthetic, ethical, and religious stages of existence. Accordingly, mantu bubak can be understood as an existential expression of Javanese society in interpreting marriage not merely as a social event, but also as a moral and spiritual experience.
Article Details

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.
How to Cite
References
Agoes, Artati. Kiat Sukses Menyelenggarakan Pesta Perkawinan Adat Jawa. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2001.
Anggraini, D. I. N. Kelestarian Tradisi Bubak Manten dalam Upacara Pernikahan Masyarakat Islam. Skripsi, Institut Agama Islam Negeri Ponorogo, 2019.
Anwar, Chairi. Pandangan Masyarakat terhadap Tradisi Bubakan pada Walimatur ’Ursy (Studi Kasus di Desa Bendosari, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang). Skripsi, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, 2014.
Hadiwijono, Harun. Sari Sejarah Filsafat Barat 2. Yogyakarta: Kanisius, 2010.
Hardiman, F. Budi. Filsafat Modern: Dari Machiavelli sampai Nietzsche. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2007.
Ismail, Ibnu. Islam Tradisi: Komparatif Budaya Jawa dengan Tradisi Islam. Kediri: Tretes Publishing, 2011.
Jarwanto, Angga Amario. Tinjauan ’Urf terhadap Praktik Ritus Bubak di Desa Semanding, Kecamatan Jenangan, Kabupaten Ponorogo. Skripsi, IAIN Ponorogo, 2021.
Jebar, Sirilus, Armada Riyanto, dan Mathias Jebaru Adon. “Tradisi Cear Cumpe di Kampung Runtu: Ekspresi Eksistensi Manusia Menurut Søren Kierkegaard.” Jurnal Adat dan Budaya Indonesia 6, no. 1 (2024): 76–86.
Kierkegaard, Soren. Fear and Trembling. Diterjemahkan oleh Alastair Hannay. London: Penguin Classics, 2013. Karya asli diterbitkan 1843.
Purnamasari, A., dan E. Ribawati. “Tradisi Rewang sebagai Kearifan Lokal Jawa dalam Memperkuat Identitas Sosial dan Budaya: Kajian Literatur.” Global Research and Innovation Journal 1, no. 2 (2025): 913–920.
Purwadi. Upacara Tradisional Jawa. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005.
Rawuh, Sugeng. Ragam Pandangan Tokoh Islam terhadap Tradisi Bubakan dalam Perkawinan Adat Jawa di Desa Sendang, Kecamatan Jambon, Kabupaten Ponorogo. Skripsi, IAIN Ponorogo, 2018.
Siska, Yudi. Manusia dan Sejarah: Sebuah Tinjauan Filosofis. Yogyakarta: Garudhawaca, 2015.
Sugiyono, Imanuel Eko Anggun. “Keputusasaan Menurut Kierkegaard dalam The Sickness unto Death.” Jurnal Filsafat Indonesia 6, no. 1 (2023): 90–97.
Tihami, H. M. A., dan Sohari Sahrani. Fikih Munakahat: Kajian Fikih Lengkap. Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2009.